Ada sekolah-sekolah yang sunyi di Kota Solo. Ruang kelasnya kosong, dan anak-anak tidak datang mendaftar. Wali Kota Solo Respati Ardi melihat hal ini dan dia tahu sesuatu harus diubah. Kegagalan menarik minat masyarakat adalah urusan serius, sebab semua sekolah menerima uang yang sama dari pemerintah.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data resmi dari laman SPMB Kota Solo, ada sekitar 20 SD Negeri yang bernasib malang. Sekolah-sekolah itu hanya memperoleh kurang dari 10 murid baru untuk tahun ajaran 2026/2027. Angka yang kecil untuk sebuah kota yang terus bergerak.
Menanggapi kondisi yang sunyi itu, Respati tidak tinggal diam. Dia telah memegang catatan evaluasi. Menurutnya, Pemerintah Kota Solo akan menggelar Training of Trainer (TOT) untuk para kepala sekolah sebagai jalan keluar bagi transformasi pendidikan negeri.
"Terus kita evaluasi yang terpenting transformasi sekolah negeri kita akan rekomendasi TOT (Training of Trainer) untuk kepala sekolah," terang Respati. Dia berbicara dengan tegas di sela pelantikan Pengurus Kota (Pengkot) Perbasi Solo di Solo Square, Minggu (5/7/2026).
Menurut Respati, pengawasan harus dilakukan dari dekat. Kepala sekolah yang membiarkan bangku-bangku kelasnya kosong akan dimonitor secara langsung oleh pemerintah kota. Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari tanggung jawab.
"Kepala sekolah akan kami monev (monitoring dan evaluasi) secara langsung, kepala sekolah yang tidak dapat menambahkan murid sekolah negerinya akan kita evaluasi," lanjut Wali Kota. Kalimatnya dingin dan penuh tuntutan.
Berdasarkan pandangannya, sepinya peminat bukan karena faktor dari luar sekolah. Ini adalah masalah kemampuan kepemimpinan. Kepala sekolah harus bisa mengenalkan dan menjual nama baik sekolahnya kepada orang tua di kota tersebut.
"Karena anggarannya sama, tapi kenapa ada yang tertarik ada yang enggak. Berarti kepala sekolah harus saya review kinerjanya," tegas Respati. Bagi pria itu, keadilan anggaran menuntut hasil yang adil pula.
Namun, anak-anak yang terlanjur mendaftar di sekolah yang sepi itu tidak akan ditelantarkan. Respati memastikan mereka akan tetap mendapat pelayanan terbaik. Sekolah tetap dibuka dan guru-guru tetap harus mengajar dengan benar.
"Tetap berjalan, tetap berjalan. Kita tetap fasilitasi warga kita tetap harus kita fasilitasi," katanya. Langkah penggabungan atau regrouping sekolah belum menjadi pilihan bagi Pemkot Solo. Kuncinya saat ini hanyalah satu, membangun kembali kekuatan sekolah negeri melalui transformasi dan kegiatan ekstrakurikuler yang hidup.