Matahari meninggi di atas Surakarta dan udara terasa berat. Di dalam tembok tua Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, ketegangan yang lama terpendam akhirnya meledak. Berdasarkan rekaman video yang beredar luas di media sosial Instagram pada Minggu, dua kubu yang berseberangan berdiri berhadapan. Mereka tidak menggunakan senjata, melainkan kata-kata yang tajam dan tarikan pada selembar karpet merah.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dari pantauan redaksi, insiden tersebut melibatkan Ketua Lembaga Dewan Adat, GRAy Koes Moertiyah, yang akrab disapa Gusti Moeng. Ia berhadapan langsung dengan seorang perempuan dari kubu Pakubuwono XIV Purboyo yang tengah sibuk mempersiapkan upacara adat Wilujengan Hajad Dalem Parangkusumo. Halaman Sasana Parasediyo menjadi saksi bisu bagaimana tradisi suci sesaat terganggu oleh amarah manusia.
Menurut juru bicara PB XIV Purboyo, KPA Singonagoro, badai itu bermula sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit pagi. Saat itu, Bupati Estri bernama Anna Mujirahayu sedang menata perlengkapan upacara. "Sebetulnya dari pagi sudah ada slentinfan-slentingan bahwa termasuk salah satunya Gusti Moeng itu tidak akan membukakan pintu Kamandungan", kata Singonagoro dengan nada suara yang berat menahan kecewa.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa suasana semakin memanas ketika terjadi perebutan fisik atas karpet merah yang akan digunakan sebagai alas prosesi. Singonagoro menceritakan bagaimana peristiwa itu memuncak di tempat penataan sajen. "Di situ, Mbak Anna ketemu dengan Gusti Moeng dan Gusti Moeng sempat ngata-ngatain segala macam itu, terus sempat ngosak-asik karpet yang mau dipakai Wilujengan", ujarnya.
Lelaki dan perempuan lain di sekitar lokasi hanya bisa terpaku, sebagian merapikan perlengkapan dengan cemas. KPH Eddy Wirabhumi, suami Gusti Moeng sekaligus Ketua Eksekutif LDA, segera melangkah maju untuk melerai pertikaian yang semakin liar. Di sudut lain, GKR Sekarjati mengangkat gawai miliknya, merekam setiap detik pertengkaran yang terjadi antara kerabat sedarah tersebut.
Pihak Pakubuwono XIV Purboyo menegaskan bahwa mereka tidak pernah berniat memicu konflik. Menurut Singonagoro, kejengkelan Anna Mujirahayu tidak tertahankan lagi hingga ia memanggil Kanjeng Wira untuk menenangkan istrinya. "Akhirnya Gusti Moeng dan Kanjeng Wira diajak turun itu", tambah Singonagoro. Akibat dari pertengkaran yang menguras emosi ini, seluruh rangkaian upacara adat dilaporkan harus tertunda selama satu jam yang sunyi.