Kematian datang dengan senyap di kota yang ramai, namun bagi sebagian orang di Kota Bandung dan Cimahi, ia membawa serta beban yang berat. Menurut pantauan redaksi di lapangan, kesedihan mendalam sering kali berkelindan dengan kebingungan finansial yang mencekik ketika seorang anggota keluarga mengembuskan napas terakhir. Urusan penyediaan kain kafan, yang tampak sederhana bagi orang bercukupan, kerap menjadi dinding batu yang tak tertembus bagi mereka yang hidup dalam kepapaan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pengamatan tim redaksi, kemiskinan memaksa sejumlah warga menanggung malu dan beban baru dengan cara berutang kepada rentenir atau tetangga demi selembar kain putih. Realitas getir di tanah priangan ini yang kemudian menggerakkan hati seorang anggota DPR RI bernama Fathi. Lelaki itu mendirikan sebuah gerakan sosial yang dinamai "Bank Kafan", sebuah tempat bernaung yang dipusatkan di Rumah Aspirasi miliknya di Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung.
Fathi berjalan di antara gang-gang sempit dan melihat bagaimana kemelaratan merampas martabat manusia, bahkan di hari kematian mereka. "Kami menemukan banyak masyarakat di dapil ini yang ketika ada anggota keluarganya meninggal dunia, justru bingung mencari kain kafan. Bahkan ada yang sampai harus berutang sana-sini. Ini sangat menyedihkan," ujarnya dengan nada suara yang berat, sebagaimana dikutip oleh jurnalis Rifat Alhamidi pada hari Minggu.
Bagi mereka yang dirundung duka, Rumah Aspirasi kini menyediakan paket pemulasaran jenazah yang lengkap tanpa pungutan biaya sepeser pun. Di dalam paket itu terdapat kain kafan yang bersih, kapas, dan kamper yang wangi. Menurut penjelasan politikus Partai Demokrat tersebut, syarat untuk mendapatkan bantuan ini sangat bersahaja, yakni warga hanya perlu membawa KTP untuk pencocokan wilayah guna memastikan mereka adalah penduduk asli Kota Bandung atau Cimahi.
Dari pantauan redaksi, gerakan ini bukan sekadar wacana di atas kertas yang berdebu. Fathi menyatakan bahwa pihaknya telah menyalurkan hampir 20.000 paket kain kafan pada tahap awal pergerakan. Target besarnya adalah menjangkau dan menyuplai kebutuhan di sekitar 1.596 RW di seluruh penjuru Kota Bandung, berkoordinasi langsung dengan para ketua lingkungan setempat agar bantuan tiba sebelum jenazah mendingin.
Rumah Aspirasi di Jalan Gatot Subroto itu kini tidak hanya mengurus kain kafan untuk orang mati, tetapi juga menjadi tempat bagi orang-orang hidup yang mencari keadilan dalam urusan kesehatan dan pendidikan. Fathi tahu benar bahwa regulasi di parlemen berjalan lamban laksana siput, sementara penderitaan rakyat menuntut tindakan yang lekas. "Kalau nunggu proses penyusunan undang-undang selesai, itu memakan waktu lama. Sementara rakyat butuh solusi cepat. Itulah kenapa kami lakukan eksekusi langsung," pungkasnya dengan tegas.