Lelaki tua itu menyaksikan putranya kalah. Di bawah langit turnamen yang keras, Erling Haaland berdiri di lapangan tanpa gol untuk pertama kalinya. Inggris menang, dan Norwegia harus pulang dari Piala Dunia FIFA. Kekalahan itu meninggalkan rasa getir yang mendalam.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Tiga orang mengawal Haaland dengan ketat sepanjang malam. Marc Guehi, John Stones, dan Nico O'Reilly bekerja dalam sunyi yang dingin. Mereka membuat penyerang Manchester City itu tidak berdaya. Pertandingan berjalan penuh drama, diwarnai kesalahan penjaga gawang yang memberi jalan bagi Jude Bellingham untuk mencetak gol kemenangan.
Namun, wasitlah yang menjadi pusat pembicaraan. Alfie Haaland, sang ayah yang juga mantan pemain profesional Norwegia, tidak bisa menahan diri. Dia menggunakan media sosial untuk melepaskan kekesalannya yang ringkas dan tajam.
"Well done Bellingham and referee," tulisnya di akun X, membalas unggahan Fabrizio Romano. Lima kata yang dingin. Penggemar Inggris segera datang membalas dengan kemarahan yang sama besarnya.
Menurut laporan media, seorang penggemar mengingatkan ucapan putranya sendiri di Liga Utama Inggris dengan menulis, "Stay humble and accept the defect and stop this." Penggemar lain melangkah lebih jauh dan menyebut lelaki tua itu sebagai pecundang yang malang.
Berdasarkan ulasan pertandingan, gol pembuka Inggris memang memicu perdebatan besar. Para pemain Norwegia mengklaim bola sempat mengenai kabel kamera udara sebelum jatuh di kaki Elliot Anderson. Mantan wasit Mark Clattenburg bahkan menyatakan di siaran langsung bahwa permainan seharusnya dihentikan saat bola mengenai kabel tersebut.
Alfie Haaland tidak hanya marah pada pengadil lapangan. Dia juga mengkritik Alexander Sørloth, penyerang Norwegia yang gagal mengoper bola kepada Erling pada babak pertama. Baginya, itu adalah momen krusial yang menyia-nyiakan kesempatan untuk menghabisi Inggris.
Lelaki tua itu tahu bahwa sepak bola adalah permainan yang kejam. Satu keputusan keliru bisa menghancurkan impian satu negara. Norwegia telah berani, tetapi Inggris yang melangkah maju ke babak berikutnya.