Lelaki tua itu telah tiada, dan para pemuda di lapangan hijau mengenakan tanda duka. Berdasarkan laporan dari berbagai sumber, tim nasional Argentina mengenakan pita hitam di lengan mereka saat bertarung melawan Swiss di babak perempat final Piala Dunia 2026 di Kansas City. Itu adalah bentuk penghormatan terakhir yang sunyi untuk Antonio Rattín.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), mereka telah mengajukan permohonan khusus kepada FIFA agar Lionel Messi dan kawan-kawan diizinkan membawa tanda duka tersebut ke dalam lapangan. Rattín, mantan kapten legendaris Boca Juniors dan tim nasional, mengembuskan napas terakhirnya pada usia 89 tahun, tepat saat negaranya sedang berjuang di turnamen besar ini.
Stadion di Kansas City menjadi saksi bagaimana sebuah laga sepak bola juga bisa menjadi tempat untuk mengingat kematian. Berdasarkan jalannya pertandingan, sebelum sepak mula dilakukan, sebuah momen mengheningkan cipta digelar. Semua orang berdiri dalam senyap yang dingin, menghormati pria yang pernah menjadi jantung dari permainan Argentina di masa lalu.
Bagi mereka yang mengingat sejarah, Antonio Rattín bukan sekadar nama. Dia adalah kapten Argentina di Piala Dunia 1966. Aksi protesnya yang keras di Stadion Wembley saat dikartu merah melawan Inggris telah mengubah jalannya sejarah sepak bola, memicu lahirnya sistem kartu merah dan kartu kuning yang dikenal dunia hari ini. Kini, ia telah istirahat dengan tenang, sementara para penerusnya terus berlari mengejar bola.