Rumah itu berdiri di Jalan Poros Samarinda-Bontang, Kelurahan Sungai Siring, Samarinda Utara. Di sana hidup seorang bocah perempuan berusia 13 tahun bernama Danisa. Dia seorang penyandang disabilitas. Bertahun-tahun dia belajar bergerak dengan merangkak, jemarinya memegang dinding rumah yang keras. Sekarang, semua perjuangan itu harus dimulai lagi dari titik mati. Kejang yang hebat telah mematahkan tulangnya.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Siti Khadijah, ibu dari bocah itu, mengenang masa lalu yang sulit. Danisa lahir prematur dan tidak pernah mendapat imunisasi saat bayi. Menurut penjelasannya, kemiskinan dan jarak fasilitas kesehatan yang jauh menjadi dinding tebal yang menghalangi mereka saat itu. "Kondisi kami waktu itu susah, fasilitas kesehatan juga jauh, jadi Danisa tidak sempat imunisasi," ujar Siti Khadijah pada Sabtu (4/7/2026).
Lelaki itu bernama Yulifiadi, ayah sambung yang bekerja sebagai buruh bangunan. Dia menyayangi Danisa seperti darah dagingnya sendiri sejak ayah kandung bocah itu tiada. Berdasarkan penuturannya, musibah itu datang tanpa tanda-tanda pada suatu pagi. Sehari sebelumnya, Danisa masih bermain ceria bersama adik-adiknya dan menatap layar ponsel.
"Paginya istri saya teriak karena Danisa kejang. Saya kira cuma digigit serangga. Waktu mau diangkat, ternyata kakinya sudah patah dan bengkok," kata Yulifiadi. Bunyi tulang yang patah mengubah segalanya. Kaki yang mulai belajar menopang tubuh kini kembali tak berdaya.
Danisa tidak pernah mencicipi bangku sekolah. Tubuhnya lemah, dan kini dia sering diserang kejang tanpa alasan yang jelas, bahkan tanpa demam. Berdasarkan keterangan keluarga, mereka masih membawa Danisa ke dokter untuk mencari jawaban pasti atas misteri kejang tersebut.
"Karena patah tulang itu, yang tadinya mulai bisa jalan jadi tidak bisa. Selain berobat, Danisa juga harus belajar bergerak dari awal," kata Yulifiadi. Di bawah atap rumah sederhana di Indonesia itu, sang ayah hanya memiliki satu harapan yang tersisa. "Saya cuma berharap dia cepat sembuh, bisa ceria lagi, dan bisa jalan lagi," pungkasnya.