Matahari bersinar terik di atas kota Solo. Di balik tembok putih Keraton Surakarta Hadiningrat, perselisihan lama kembali memercik. Lembaga Dewan Adat atau LDA akhirnya memecah kesunyian. Mereka angkat bicara mengenai keributan yang terjadi antara GKR Koes Moertiyah Wandansari, yang dikenal sebagai Gusti Moeng, dengan Ana Muji Rahayuning Tyas pada Minggu yang lalu.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan siaran pers yang dikirimkan pada Selasa, Ketua LDA KPH Eddy Wirabhumi menyatakan bahwa rekaman video yang beredar di ruang publik adalah potongan yang tidak lengkap. Video itu pendek dan tajam, namun gagal menangkap seluruh kebenaran yang terjadi di lapangan. Potongan gambar seperti itu hanya melahirkan kesalahpahaman di antara orang-orang yang menontonnya.
Menurut penjelasan KPH Eddy Wirabhumi dalam rilis tersebut, "Keraton menyatakan, sebelum siaran pers ini disampaikan, terlebih dahulu telah beredar video adu mulut antara GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng dengan Ana Muji Rahayuning Tyas. Menurut Keraton, video yang beredar di ruang publik itu tidak menampilkan rangkaian peristiwa secara utuh, sehingga berpotensi menimbulkan pemahaman yang tidak lengkap mengenai duduk persoalan yang sebenarnya."
Hari itu, Gusti Moeng berdiri di sana bukan tanpa alasan. Ia sedang membicarakan hal penting mengenai hak dan jalan. Ia menuntut akses menuju Keputren dan Ndalem Ageng, tempat kamar-kamar pusaka yang sakral berada. Orang yang dihadapinya, Ana Muji Rahayuning Tyas, adalah seorang pembantu pribadi. Ia melayani ibu dari PB XIV Purbaya, seorang perempuan yang dikenal sebagai Mbak Asih.
Berdasarkan keterangan rilis tersebut, "Keraton menjelaskan, Ana Muji Rahayuning Tyas diketahui merupakan pembantu pribadi Mbak Asih, ibu dari Mustiko, yang kemudian berganti nama menjadi Purbaya, dan saat ini menggunakan identitas dengan nama Sri Susuhunan Pakubuwono Empat Belas."
Kabar buruk dan video pendek cepat menyebar seperti angin malam. KPH Eddy Wirabhumi menyebut nama Samsul Arifin, lelaki yang juga dipanggil KPA Singonegoro. Lelaki itu bertindak sebagai juru bicara bagi PB XIV Purbaya. Dari telepon genggamnya, video itu dikirim ke grup-grup WhatsApp, membagikan kegaduhan kepada para wartawan yang haus akan berita.
Menurut KPH Eddy Wirabhumi, "Video peristiwa tersebut kemudian beredar luas dan, menurut informasi yang diterima pihak Keraton, turut dibagikan kepada awak media melalui grup WhatsApp yang dibuat oleh Samsul Arifin alias KPA Singonegoro, yang belakangan diketahui dan dikenal sebagai juru bicara Sri Susuhunan Pakubuwono Empat Belas (tanpa romawi)."
Peristiwa hari Minggu itu tidak datang begitu saja dari langit yang kosong. Ia adalah ujung dari rangkaian ketegangan yang panjang. Gusti Moeng telah berulang kali meminta agar pintu menuju kawasan pusaka itu dibuka lebar. Namun, hingga hari ini, jawaban yang dinanti tidak pernah datang, dan tembok-tembok keraton tetap membisu.