Sore itu di Medan Utara cuaca terasa berat dan angin membawa bau garam yang payau. Orang-orang berkumpul di dalam Masjid Al Hijrah, Kompleks BTN, Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan. Di sana ada Wali Kota Medan Rico Waas. Orang-orang datang bukan untuk berpesta, melainkan membawa keluhan yang menahun, seperti nelayan yang membawa jala kosong setelah semalaman di laut.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi di lokasi, seorang lelaki bernama Sipahutar berdiri. Wajahnya keras seperti tanah yang diterpa matahari. Ia mengeluhkan jarak yang jauh untuk mengurus surat-surat administrasi kependudukan. "Kalau warga di sini mau mengurus administrasi kependudukan, terkadang aksesnya sulit karena mal pelayanan publik lokasinya cukup jauh dari sini," katanya. Suaranya datar, namun ada tuntutan yang jelas di sana.
Menurut pengamatan tim redaksi, Sipahutar memandang lurus ke depan dan meminta agar sebuah Mal Pelayanan Publik dibangun di wilayah Medan Utara. Baginya, keadilan adalah jarak yang dekat. Ia juga bicara tentang anak-anak muda yang menganggur di dekat pabrik yang besar. "Kami juga meminta bantuan kepada bapak Wali Kota Medan untuk dapat membantu warga dalam hal lapangan pekerjaan. Karena kita ketahui disini banyak pabrik dan warga di sini khusus generasi muda kesulitan mencari pekerjaan," ucapnya lagi.
Rico Waas mendengarkan dengan saksama. Ia adalah orang yang tahu cara menjawab. Menurut sang Wali Kota, pengurusan Kartu Keluarga dan KTP kini sudah bisa diselesaikan di kantor kecamatan masing-masing. "Pengurusan KK dan KTP saat ini dapat dilakukan di Kecamatan masing-masing. Tahun ini insyaallah seluruh kecamatan bisa menerapkannya," ujarnya dengan nada meyakinkan. Ia juga berjanji bahwa Disnaker akan membantu lewat Program RW.
Namun, urusan hidup bukan hanya tentang kertas dan stempel. Air juga menjadi musuh di sini. Seorang perempuan bernama Hera berbicara tentang banjir yang datang setiap tahun tanpa pernah gagal. Dari pantauan redaksi, matanya mencerminkan kelelahan yang dalam. "Kami yang masih muda dan kuat saja merasa letih dan lelah menghadapi banjir yang datang berkali-kali ini, apalagi orang tua kami dan para janda di sini," katanya. Ia mengusulkan sebuah benteng beton yang kokoh untuk menahan air.
Wali Kota Rico Waas menanggapi persoalan air itu dengan ketegasan seorang kapten kapal. Menurutnya, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi harus segera menghitung biaya untuk perbaikan besar-besaran. "Kalau mau kita kerja, kita kerja jangan tanggung-tanggung. Kalau tanggung-tanggung, ya sampai kapan pun kita gini terus," ucap Rico Waas. Kata-katanya pendek dan tajam.
Pertemuan itu ditutup dengan keluhan tentang malam yang gelap. Titi, warga lainnya, mengatakan lampu-lampu jalan banyak yang mati dan dicuri orang. Kegelapan membawa ketakutan akan datangnya para pembegal. Menanggapi hal itu, berdasarkan catatan redaksi, Rico Waas memerintahkan Dinas Perhubungan untuk segera bertindak dan meminta PLN mengganti tiang yang rapuh. "Saya minta Kadis Perhubungan segera perbaiki lampu jalan yang mati atau rusak," pungkasnya sebelum malam benar-benar turun.