Matahari bersinar terik di atas Lapangan Tembak Brimob Polda Sumsel, Palembang. Udara terasa panas dan berbau besi tua yang terbakar. Dari pantauan redaksi di lokasi, mesin pemotong baja meraung keras, membelah laras-laras besi yang dingin. Di sana, tiga ratus sembilan puluh tujuh pucuk senjata api rakitan ilegal menemui ajalnya, dihancurkan menjadi berkeping-keping tanpa sisa.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan keterangan Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho, ratusan besi pembuat maut itu terdiri atas 284 pucuk laras panjang dan 113 pucuk laras pendek. Semuanya dikumpulkan dalam sebuah perburuan sunyi yang dinamakan Operasi Senpi Musi 2026. "Langkah tegas ini dilakukan untuk menjamin rasa aman masyarakat sekaligus mempersempit ruang gerak kejahatan bersenjata di wilayah Sumsel," ujar sang jenderal dengan nada suara yang berat dan pasti.
Besi-besi tua itu dikumpulkan dalam waktu enam belas hari yang melelahkan, sejak tanggal dua belas hingga dua puluh tujuh Juni. Menurut Kapolda Sumsel, kehadiran negara adalah hal yang mutlak untuk melindungi manusia dari bahaya yang mengancam dari dalam kegelapan. Warga harus bisa bekerja, berjalan di bawah matahari, dan membiarkan anak-anak mereka pergi ke sekolah tanpa rasa takut yang menghantui.
Dari pengamatan tim redaksi, ada keheningan yang janggal ketika gergaji mesin memotong logam-logam itu. Operasi ini bukan sekadar tentang menyita barang mati, melainkan tentang menghentikan potensi pertumpahan darah. Jajaran kepolisian berhasil mengungkap tiga puluh dua perkara kejahatan dan menyeret tiga puluh satu orang lelaki ke balik jeruji besi atas kepemilikan senjata-senjata berbahaya tersebut.
Namun, ada cerita lain tentang kesadaran yang tumbuh di antara tanah dan lumpur Sumatera Selatan. Berdasarkan data yang dirilis, sebanyak dua ratus tiga puluh empat pucuk senjata diserahkan sendiri oleh tangan-tangan warga secara sukarela. Mereka datang membawa senjata mereka, menyerahkannya kepada hukum, memilih kedamaian daripada bahaya yang tersimpan di dalam lemari rumah.
Angin sore berembus membawa sisa debu logam di lapangan tembak. Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya berdiri tegak dan memberikan peringatan yang ringkas namun tajam kepada siapa saja yang masih menyembunyikan besi maut di rumah mereka. "Polda Sumatera Selatan tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi peredaran senjata api ilegal," katanya dengan tegas sebelum matahari sepenuhnya tenggelam.