Angin berembus di landasan dan matahari bersinar terik. Di dalam terminal Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, seorang pria berjalan tanpa arah. Pria itu bernama Akel. Tubuhnya dihiasi tato, kain sarung melilit pinggangnya, dan kemeja putih membungkus badannya. Ia bicara sendiri, meracau dalam sunyi yang membingungkan para calon penumpang pada Sabtu siang.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Lelaki itu linglung, namun bandara harus tetap tenang. Petugas Aviation Security bersama Unit Penyelenggara Bandar Udara bergerak mendekat. Mereka membujuknya dengan sabar, mengamankannya tanpa kekerasan, lalu menyerahkannya kepada Dinas Sosial Kabupaten Kotawaringin Barat. Selesai, atau begitulah tampaknya.
Beberapa jam berlalu dan jalanan kembali mempertemukan mereka. Akel berjalan kaki dari arah kawasan TNI AU, kembali menuju bandara yang sama. Kali ini pakaiannya berganti menjadi kemeja flanel hijau lengan panjang dan celana panjang cokelat. Petugas Avsec kembali menghadangnya, menenangkan jiwanya yang resah, dan mulai mencari tahu siapa sebenarnya pria ini.
Sebuah petunjuk ditemukan di sebuah rumah makan ikan asapan di kawasan Pelingkau, Kelurahan Baru. Akel pernah bekerja di sana. Petugas menghubungi sang pemilik usaha, mencari ujung dari benang kusut ini, hingga mendapati bahwa Akel memiliki keluarga yang tinggal di dekat Bundaran Pancasila. Bersama personel Polisi Militer TNI AU, petugas membawa Akel pulang.
Perjalanan pulang tidaklah mudah bagi pria yang pikirannya mengembara. Di tengah jalan, Akel meminta diturunkan di kawasan Bundaran Pancasila. Namun petugas tidak membiarkannya pergi begitu saja. Mereka terus mengawal, memastikan langkah kakinya benar-benar sampai ke pintu rumah keluarganya dengan selamat.
Seorang warga bernama Andika berdiri di sana dan melihat semuanya. Menurut Andika, pria itu tampak sangat kebingungan saat diinterogasi. "Saya mau pulang dari bandara melihat pria itu sedang ditanyai petugas, tapi jawabannya ngalor-ngidul, tidak jelas, seperti orang linglung," ujarnya.
Menurut Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kotawaringin Barat, Hazriansyah, pemilik rumah makan tempat Akel bekerja awalnya tidak mengetahui kondisi mental pria tersebut. Namun ketika situasi memburuk, pemilik usaha bertindak benar. "Bahkan, hak gaji Akel selama lima hari bekerja dan bantuan tiket kapal telah disiapkan untuk diserahkan kepada keluarganya," ujar Hazriansyah.
Berdasarkan informasi resmi dari Bhabinkamtibmas Kelurahan Baru, Akel kini telah berkumpul kembali dengan darah dagingnya. Hazriansyah memuji ketangguhan semua pihak yang tidak membiarkan pria itu telantar di jalanan.
"Kami mengapresiasi kepedulian semua pihak yang terlibat. Penanganan ini menunjukkan bahwa koordinasi yang baik antara petugas bandara, aparat keamanan, tempat kerja, Dinas Sosial, dan keluarga menjadi kunci agar Akel dapat kembali ke keluarganya dengan aman," kata Hazriansyah.
"Jangan mudah menyimpulkan bahwa yang bersangkutan ditelantarkan. Kami memastikan setiap informasi ditindaklanjuti dan seluruh pihak saling berkoordinasi hingga akhirnya Akel berhasil dipertemukan kembali dengan keluarganya," tutup Hazriansyah. Berita selesai, dan kota kembali tenang di bawah langit Kalimantan.