Angin berembus di Kotawaringin Barat dan membawa cerita tentang orang-orang yang kehilangan arah. Sepanjang pertengahan tahun 2026, jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa atau ODGJ yang terlantar di jalanan semakin bertambah. Dinas Sosial Kabupaten Kotawaringin Barat mencatat sebuah kenyataan yang getir, bahwa mayoritas dari mereka bukanlah orang-orang dari tanah ini, melainkan datang dari luar daerah.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data resmi Dinas Sosial Kotawaringin Barat sepanjang Januari hingga Juli 2026, sedikitnya ada 20 orang ODGJ yang telah ditangani oleh petugas. Angka itu terbagi dua dengan adil namun menyedihkan. Sebanyak 10 orang merupakan warga asli Kotawaringin Barat, sementara 10 orang lainnya adalah orang asing yang ditemukan hidup terlantar di bawah langit yang sama.
Kepala Dinas Sosial Kotawaringin Barat, Hazriansyah, bergerak bersama Satpol PP untuk mengawasi kota. Mereka berjalan menyisir jalanan, menjaga agar ketakutan tidak menguasai masyarakat. Menurut Hazriansyah, langkah ini penting untuk mengantisipasi segala potensi gangguan yang bisa meledak kapan saja.
"Kami melihat rata-rata yang datang merupakan ODGJ baru. Yang menjadi perhatian adalah kemungkinan mereka mengalami gangguan emosi dan berpotensi marah-marah di tempat umum. Sampai saat ini belum ada laporan kejadian yang meresahkan, tetapi kami tetap melakukan pengawasan," ujarnya pada Senin, 6 Juli 2026.
Ada dugaan kuat yang muncul dari debu jalanan dan jejak roda kendaraan. Berdasarkan penelusuran para petugas di lapangan, sebagian dari orang-orang yang malang ini sengaja diturunkan dan ditinggalkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab begitu mereka memasuki wilayah Kotawaringin Barat.
"Kawasan Pelabuhan Kumai menjadi lokasi yang paling sering ditemukan ODGJ terlantar. Pelabuhan tersebut merupakan salah satu pintu gerbang utama mobilitas masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa melalui jalur laut maupun darat," ujar Hazriansyah dengan nada yang berat.
Laut membawa kapal, dan kapal membawa manusia. Menurut pengamatan petugas, mayoritas ODGJ yang mereka amankan adalah laki-laki. Beberapa di antaranya memiliki kisah masa lalu yang keras, pernah memeras keringat di perkebunan wilayah Kalimantan Barat sebelum akhirnya kehilangan segalanya dan terdampar di Kotawaringin Barat.
Setiap kali ada ODGJ yang ditemukan, petugas akan memulai pekerjaan mereka yang sunyi. Mereka mendata dan mencari tahu siapa nama asli orang tersebut dan dari mana mereka berasal. Ini adalah usaha keras untuk mengembalikan mereka ke tempat yang seharusnya.
"Setelah identitas diketahui, kami memfasilitasi pemulangan ke daerah asal dengan berkoordinasi bersama Dinas Sosial setempat. Ada yang dipulangkan ke Pulau Jawa dan ada juga ke daerah lain di Kalimantan," jelas Hazriansyah.
Dinas Sosial tidak hanya memberi mereka tiket pulang. Mereka juga memberikan hal-hal mendasar yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup; makanan yang hangat, pakaian yang layak untuk menutupi tubuh, serta layanan kesehatan. Semua itu diberikan agar tubuh dan jiwa mereka yang rapuh bisa sedikit stabil sebelum pendataan kembali dilakukan.
Hazriansyah menegaskan bahwa tugas mereka difokuskan kepada orang-orang terlantar yang berjalan sendiri tanpa keluarga, tanpa tanda pengenal, dan tanpa atap untuk berteduh. Dia tahu betul bahwa kota ini tidak bisa bertarung sendirian melawan masalah kemanusiaan yang terus berulang ini.
"Masalah ini tidak bisa ditangani oleh satu daerah saja. Perlu sinergi antarwilayah agar penanganannya lebih menyeluruh dan berkelanjutan," pungkasnya menutup pembicaraan.