Lelaki dan tanah memiliki ikatan yang kuat, begitu pula dengan tradisi yang dijaga dengan tekun. Berdasarkan informasi dari pihak panitia, Dewan Koordinator Nasional (Dekornas) Pusat Koordinasi Hindu Indonesia (Puskor Hindunesia) akan kembali menggelar Festival Gerbang Nusantara 2026. Ini adalah tahun kedua bagi perayaan tersebut. Acara besar ini akan berpusat di lokasi yang kokoh dan tua, Inna Bali Heritage Hotel, Denpasar, mulai tanggal 17 hingga 19 Juli 2026.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Mereka membawa semangat yang besar, yaitu Bangga, Bangkit, Bangun Dharma Nusantara. Menurut ketua panitia, festival budaya, pendidikan, ekonomi kreatif, dan sosial kemanusiaan ini ditargetkan mampu mendatangkan lebih dari 10.000 pengunjung selama tiga hari penuh. Sebuah rencana yang berani. Acara berskala nasional ini dijadwalkan akan dibuka langsung oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu Kementerian Agama RI.
Ida Bagus Ketut Susena, Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia, berbicara tentang tujuan dari kerja keras ini pada Selasa, 7 Juli 2026. Dia mengatakan bahwa festival ini adalah ruang kolaborasi yang nyata. Ruang untuk memperkuat multi-sektor Hindu secara luas dan mendalam, tidak hanya untuk mereka yang tinggal di Bali.
"Festival Gerbang Nusantara bukan sekadar pertunjukan seni budaya, melainkan gerakan pemberdayaan sumber daya Hindu. Kami ingin menata Bali sebagai etalase Hindu Nusantara sekaligus laboratorium hidup Bhinneka Tunggal Ika," ujar Ida Bagus Ketut Susena dengan suara yang mantap.
Ada 30 rangkaian kegiatan yang disiapkan dengan baik. Semuanya memadukan tradisi yang jujur, edukasi, dan aksi nyata untuk menjaga alam. Menurut rincian acara, akan ada parade ngelawar (mebat) yang menghadirkan empat komunitas penekun dari empat wilayah penting di Bali, yaitu Denpasar, Gianyar, Jembrana, dan Karangasem. Ada pula diskusi telusur subak yang mengumpulkan para pekaseh untuk berbicara jujur tentang tanah dan air mereka.
"Forum ini menegaskan bahwa subak harus tetap eksis secara fungsional, bukan sekadar menjadi warisan pajangan. Kepunahan subak sebagai awal kepunahan budaya Bali," papar Ida Bagus Ketut Susena.
Hari-hari festival juga akan diisi dengan dharma wacana. Penulis dan akademisi Prof Nyoman Yoga Segara akan hadir di sana, mendampingi workshop pembuatan banten. Lalu ada sesi yoga massal yang dipandu oleh seorang instruktur bernama Anjasmara. Komunitas tarot, pijat tradisional, paguyuban Usadha Bali, Gotra Pangusadha Bali, dan terapi spiritual juga akan mengambil bagian di atas tanah hotel tua itu. Panggung seni akan menampilkan keragaman Nusantara, berdampingan dengan pameran produk UMKM berbasis Dharma.
Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Anak Agung Gede Agung, pemilihan lokasi di Inna Bali Heritage Hotel dilakukan dengan sengaja. Mereka menginginkan nuansa historis yang kuat dari tempat yang akan menyongsong usia 100 tahun pada tahun depan. Tempat tua selalu menyimpan cerita yang baik.
Berdasarkan keterangan dari General Manager (GM) Inna Bali Heritage Hotel, I Made Widiasa, pihak hotel memberikan dukungan penuh. Mereka bersiap menyediakan fasilitas terbaik untuk kenyamanan ribuan orang yang datang. Melalui festival ini, ada ajakan yang kuat untuk bergotong-royong dan menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan leluhur, demi peradaban yang Santih, Kertha, dan Jagadhita.