Jakarta adalah kota yang bergerak cepat, dan transportasinya adalah urat nadi yang menghidupinya. Usulan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) untuk menghapus tarif gratis pada layanan Mikrotrans Jaklingko kini memicu perbincangan hangat di tengah masyarakat yang bergantung pada armada kecil ini.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pandangan pengamat transportasi Deddy Herlambang, layanan angkutan pengumpan tersebut memang sudah masanya untuk tidak lagi gratis. Kenaikan tarif dinilai perlu, tetapi langkah itu harus diambil dengan perlahan dan bijaksana, seperti seorang lelaki yang meniti jalan setapak, agar tidak memberi beban berat seketika kepada masyarakat bawah.
Menurut Deddy Herlambang, langkah berbayar ini adalah urusan mendidik masyarakat. Ketika seonggok layanan diberikan tanpa biaya, kualitas sering kali diabaikan. "Memang betul Mikrotrans harus berbayar, jadi ada edukasi ke pengguna. Jangan sampai gratisan malah mengabaikan pelayanan itu sendiri," kata Deddy saat dikonfirmasi pada Selasa (7/7/2026).
Ada hak yang lahir ketika seseorang mengeluarkan koin dari dompetnya. Deddy menegaskan bahwa dengan membayar tarif, para penumpang memiliki kekuatan penuh untuk menuntut kenyamanan dan keselamatan yang lebih baik dari pihak operator. "Kalau berbayar kita bisa menuntut pelayanan lebih baik," ujarnya dengan lugas.
Namun, sebuah transisi yang mendadak bisa melukai adaptasi warga kota. Merujuk pada usulan DTKJ mengenai tarif awal sebesar Rp 2.000, Deddy menyarankan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak tergesa-gesa. Dia melihat angka yang lebih rendah sebagai permulaan yang baik untuk mencegah keterkejutan budaya di kalangan komuter.
"Saya usul bertahap, bayar Rp 1.000 dulu, baru dua tahun berikutnya Rp 2.000," kata Deddy. Skema waktu dua tahun tersebut dianggapnya cukup matang bagi masyarakat untuk membiasakan diri dengan sistem yang baru. "Supaya tidak shock culture," tambahnya singkat.
Di samping urusan Mikrotrans, sebuah rencana baik lainnya juga mengapung ke permukaan. Deddy memberikan penilaian positif terhadap rencana DTKJ yang ingin meluncurkan sistem tarif langganan Transjakarta sebesar Rp 200 ribu per bulan. Baginya, skema ini akan menjadi pelindung yang baik bagi dompet para pekerja harian jika tarif reguler nantinya terpaksa mengalami penyesuaian.