Matahari bersinar terik di atas aspal Kota Medan. Ratusan pria dan wanita dengan jaket berbeda warna berkumpul di depan gedung DPRD Sumut. Mereka adalah para pengemudi ojek online dari Grab, Gojek, ShopeeFood, Maxim, hingga InDrive. Aksi itu disebut Aksi 707. Mereka datang membawa tuntutan yang sederhana namun berat tentang hak untuk bertahan hidup.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan orasi yang disampaikan di lokasi, massa merasa dikhianati oleh waktu. Hingga awal Juli 2026, janji pemerintah tentang pembatasan potongan komisi aplikasi sebesar 8 persen belum juga terwujud di atas aspal jalanan. Pendapatan mereka kian mengecil, tercekik oleh biaya-biaya yang tidak pernah turun. Harapan yang sempat melambung kini perlahan menjadi dingin.
Menurut para pengunjuk rasa, penyesuaian tarif dengan potongan 8 persen hanya berlaku untuk layanan angkutan penumpang. Namun, jalanan tahu bahwa layanan pengantaran makanan dan barang adalah urat nadi pendapatan mereka yang sebenarnya. Pada dua layanan primadona itu, perusahaan aplikator masih mengambil potongan komisi yang sangat tinggi. Perbedaan perlakuan ini dinilai sebagai ketidakadilan yang nyata bagi para mitra.
Tuntutan mereka jelas dan tidak bertele-tele. "Kami meminta pemerintah segera membuat regulasi menyeluruh agar tidak ada perbedaan perlakuan antar-layanan dalam satu aplikasi," teriak seorang orator dari atas mobil komando dengan suara yang serak namun tegas. Suara itu menggema di antara kerumunan manusia yang mencari keadilan.
Dalam aksi kali ini, para pengemudi membawa tujuh tuntutan utama. Mereka menuntut penerapan potongan komisi maksimal 8 persen untuk seluruh jenis layanan tanpa tebang pilih. Mereka juga mendesak penghapusan fitur "tarif hemat" dan sistem "tarif gabungan". Dua fitur tersebut dinilai hanya menguntungkan sepihak dan menguras kantong para pekerja yang hidupnya bergantung pada roda yang berputar.