Keresahan melanda para peternak lokal di Banten. Fluktuasi harga pakan dan risiko gagal panen menjadi hantu yang menakutkan. Di tengah situasi yang menjepit ini, pemenuhan bantuan sarana dari pemerintah menjadi satu-satunya harapan yang dinantikan oleh mereka yang bertahan di tanah peternakan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Keterbatasan informasi sering kali berujung petaka. Beberapa peternak terjebak menggunakan formulasi pakan yang keliru. Akibatnya fatal. "Saya ternak bebek petelur, bangkrut karena kesalahan pakan, akhirnya bebek tidak mau betelur," cerita seorang netizen melalui kanal media sosial Pemprov Banten. Sebuah pengakuan jujur tentang usaha yang hancur di tengah jalan.
Anggaran pemerintah memiliki batas, begitu pula dengan personel. Tahun ini, bantuan ternak itik untuk perorangan ditiadakan. Namun, Dinas Pertanian Provinsi Banten tidak tinggal diam. Menurut laporan resmi, mereka kini tengah mengidentifikasi kelompok-kelompok peternak itik dan ayam petelur untuk disinergikan dengan bantuan dari dana CSR perusahaan.
Penyaluran bantuan kini berjalan di atas jalur yang ketat. Berdasarkan Peraturan Gubernur Banten Nomor 54 Tahun 2025 tentang Pedoman Pemberian Bantuan Sarana dan Prasarana Peternakan, bantuan hibah APBD hanya dialokasikan kepada kelompok yang memenuhi kriteria. Syarat utamanya mutlak: kelompok harus terdaftar dalam Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian atau Simluhtan.
Pasal 11 dari Pergub tersebut juga mengatur batas minimal kepemilikan ternak hidup yang sejenis bagi kelompok tani. Untuk bisa mengajukan bantuan, kelompok peternak harus menyusun proposal yang dilengkapi dengan delapan dokumen administrasi penting, termasuk surat keterangan terdaftar di Simluhtan dan rekomendasi dari dinas kabupaten atau kota setempat.
Gubernur Banten, Andra Soni, melihat ada peluang besar di balik tantangan ini. Banten memiliki keunggulan strategis dengan berdirinya 14 pabrik pakan ternak unggas serta kedekatan geografis dengan pasar Jabodetabek. Potensi besar ini akan disinergikan melalui program pemberdayaan Bantuan Usaha Ekonomi Produktif.
Langkah kelompok dinilai jauh lebih efisien daripada bergerak sendiri. Direktur PT Japfa Comfeed, Azrul Arifin, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan ini. Menurut beliau, pembinaan yang dilakukan secara berkelompok jauh lebih efektif dan lebih mudah untuk dipantau perkembangannya di lapangan.