Lelaki dan tanah memiliki ikatan yang tua, tua sekali. Di Tanah Mendapo Kota Sungai Penuh, Jambi, ikatan itu dirayakan kembali dalam keheningan yang megah. Melalui pengamatan tim redaksi di lapangan, ritual adat Kenduri Sko kembali digelar, setelah sembilan belas tahun tertidur dalam lipatan waktu sejak wilayah ini memisahkan diri dari Kabupaten Kerinci. Ritual ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah cara bersyukur yang jujur atas hasil bumi yang diberikan oleh alam.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Gubernur Jambi Al Haris saat menghadiri acara tersebut pada hari Sabtu, adat bagi masyarakat setempat adalah sebuah fondasi yang kokoh untuk memahami makna hidup. Berdasarkan pandangannya, adat mengatur bagaimana manusia bersikap ramah pada alam, menjaga keseimbangan sesama, dan tetap tunduk pada sang pencipta. Dari pantauan redaksi, ada kebanggaan yang tenang terpancar dari wajah orang-orang tua dan pemangku adat yang hadir mengenakan pakaian kebesaran mereka.
Wali Kota Sungai Penuh Alfin Bakar menegaskan sinergi ini adalah jalan panjang yang harus ditempuh bersama. "Melalui Kenduri Sko, masyarakat tidak hanya mempertahankan identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada leluhur, serta falsafah adat sebagai fondasi kehidupan masyarakat Kerinci," katanya dengan nada suara yang berat dan penuh keyakinan.
Udara di Sungai Penuh sore itu terasa sejuk, membawa aroma tanah yang basah dan sejarah yang enggan terkikis oleh zaman. Gubernur Jambi mengimbau agar rumah adat dan empat jenis simbol adat segera dikelola di bawah naungan lembaga adat tunggal, Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci. Berdasarkan laporan yang dihimpun, pengelompokan ini penting agar generasi muda tidak kehilangan arah di tengah arus digitalisasi yang deras, menjadikan tradisi kuno ini sebagai penyaring yang kuat dari pengaruh luar.