Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menekankan pentingnya menjaga toleransi dan merawat keberagaman. Bagi dia, harmoni adalah modal sosial dan motor penggerak pembangunan Kota Medan. Hal itu disampaikannya saat membuka Sosialisasi Pengukuran E-Survey Indeks Harmoni Indonesia (IHAI) Kota Medan di Gedung PKK Kota Medan, Jumat.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Rico Waas, Indonesia bukanlah satu ragam, bukan pula satu suku dan agama. Dari ujung timur hingga barat, selatan ke utara, semuanya berbeda. Kota Medan sendiri merupakan miniatur Indonesia yang memiliki banyak keberagaman suku, budaya, dan agama.
Rico Waas mengibaratkan keberagaman di Kota Medan layaknya sebuah taman bunga yang indah. "Bayangkan kalau sebuah taman hanya punya satu bunga yang sama dari ujung ke ujung. Awalnya mungkin indah, tapi lama-lama kita bosan. Tapi bayangkan jika sebuah taman yang di dalamnya ada warna hijau, biru, kuning, ada rumput, ada bunga dengan tekstur berbeda. Itulah sebuah taman yang indah dan enak dipandang karena ada harmoni," kata Rico Waas.
Sikap toleransi dan saling menghargai telah diajarkan sejak bangku Sekolah Dasar. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan komitmen yang kuat untuk terus menjaga sikap toleransi di tengah keberagaman. Rico Waas tidak ingin kedamaian yang telah terbangun sejak dahulu hanya sampai di generasi saat ini, melainkan harus terus ditanamkan hingga ke generasi muda.
Rico Waas meminta para Camat dan seluruh elemen masyarakat untuk menjadi agen harmoni dan mensosialisasikan e-survey ini secara masif di wilayah kerja masing-masing. "Kita hari ini mungkin sepakat di dalam ruangan ini, tetapi kita harus cek bagaimana dengan Gen Z dan Gen Alpha kita? Apakah mereka berpikir hal yang sama? Kita harus melakukan transfer knowledge kepada anak-anak kita agar perbedaan ini tidak menjadi pembatas, melainkan menjadi kekuatan yang memajukan ekonomi dan pembangunan kota kedepannya," tegasnya.
Sesuai dengan semboyan dalam Mars Kota Medan, Rico Waas menegaskan prinsip "Medan Untuk Semua dan Semua Untuk Medan". Kota dengan sejarah panjang ini adalah milik semua suku, agama, dan ras yang wajib berkontribusi penuh dalam menjaga kerukunan. "Mari terus kita jaga harmonisasi ini. Perbedaan yang ada bukan menjadi problem, tapi justru harus dijadikan kekuatan untuk kita membangun bersama kota Medan," ajaknya.
Berdasarkan laporan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Medan, Andi Mario Siregar, survei ini dilaksanakan di 19 provinsi di Indonesia. Provinsi Sumatera Utara terpilih dalam pengukuran indeks ini. Antusiasme warga Medan terbukti sangat tinggi dalam menyambut program tersebut.
"Antusiasme warga Medan pun terbukti sangat tinggi. Kami lihat sampai tadi pagi jam 08.00 WIB, jumlah penduduk Kota Medan yang sudah mengisi e-survey ini telah melampaui target, yaitu sebanyak 2.020 orang. Harapan kita ke depan adalah sebaran data yang merata di seluruh wilayah," ungkap Andi Mario.
Menurut Andi Mario, tujuan pengisian e-survey ini adalah untuk memperoleh gambaran tingkat harmoni masyarakat sebagai dasar evaluasi perencanaan dan penyusunan kebijakan pembangunan daerah berbasis data. Hal ini mencakup dimensi ekonomi, sosial, budaya, dan keberagaman, sekaligus menciptakan suasana yang kondusif, aman, dan damai.
Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan pada tanggal 10, 13, dan 14 Juli 2026 dengan jumlah peserta sebanyak 500 orang. Turut hadir dalam pembukaan sosialisasi tersebut unsur Forkopimda Kota Medan, Pimpinan Perangkat Daerah, serta para Camat se-Kota Medan.