Pemerintah Kota Bandung terus bergerak maju. Mereka melanjutkan rencana investasi besar untuk mengalirkan air baku dari Waduk Saguling dan Waduk Cirata. Langkah ini diambil demi mendongkrak capaian layanan air perpipaan agar mampu menembus angka 40 persen bagi warga kota.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan keterangan dari Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, megaproyek infrastruktur ini dirancang dengan target yang jelas. Jaringan pipa baru tersebut diproyeksikan mampu memasok aliran air baku hingga 3.500 liter per detik untuk memenuhi dahaga masyarakat urban.
"Kita sedang melanjutkan pembicaraan investasi pembangunan pipa dari Saguling dan Cirata sebanyak 3.500 liter per detik ke Kota Bandung. Semua sudah siap, tapi sampai hari ini kami belum mendapatkan persetujuan dari Indonesia Power," ujar Farhan dengan lugas.
Menurut Farhan, negosiasi yang sedang berjalan masih membentur dinding kendala teknis yang cukup pelik. Persoalan utama berakar pada ancaman penurunan debit air yang kerap terjadi ketika musim kemarau panjang datang melanda kawasan bendungan.
"Dalam keadaan musim kemarau, kalau air di Indonesia Power (Saguling) kurang, ya kita tidak bisa dapat air. Maka itu masih jadi pembicaraan secara teknis yang tidak mudah sama sekali," kata Farhan menambahkan.
Kota ini tidak menyerah pada satu opsi saja. Pemerintah Kota Bandung kini juga tengah mengembangkan sistem penyulingan dan filterisasi modern di aliran Sungai Cikapundung. Air hasil olahan sungai ini disiapkan untuk menopang kebutuhan air bersih nonkonsumsi sehari-hari.
"Air Sungai Cikapundung akan digunakan sebagai air bersih untuk kepentingan non-konsumsi, seperti untuk bersih-bersih, mandi, dan lain-lain," jelas Farhan mengenai strategi taktis tersebut.
Saat ini, jangkauan nyata layanan air perpipaan di Kota Bandung baru menyentuh angka sekitar 38 persen. Target kenaikan menjadi 40 persen akan digapai secara merangkak dan bertahap melalui kalkulasi yang matang.
Ketergantungan pasokan menjadi alasan utama di balik langkah lambat ini. Menurut Farhan, Kota Bandung sama sekali tidak memiliki sumber air baku mandiri di dalam wilayahnya dan sepenuhnya bergantung pada belas kasih pasokan dari wilayah tetangga.
"Kalau sekarang kita masih mengejar 40 persen dulu, dari 38 persen ke 40 persen. Kenapa tidak bisa langsung ke 100 persen? Karena sumber air baku di Kota Bandung sudah tidak ada. Kita membeli semuanya dari provinsi dan kabupaten," ungkap Farhan dengan jujur.
Namun, ada kabar baik di tengah keterbatasan. Pemerintah Kota Bandung mencatat keberhasilan dalam menekan angka kebocoran air. Melalui perbaikan jaringan yang intensif bersama mitra kerja dan dukungan teknologi dari Pemerintah Jepang, tingkat kehilangan air berhasil ditekan dari 40 persen menjadi 37 persen.